Oleh Ustadz Abu Rosyid Ash-Shinkuan
Ayat-ayat Al Qur’an tentang Sabar Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (QS.Ali ‘Imraan: 200)
Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah: 155) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS.Az-Zumar: 10) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS.Asy-Syuuraa: 43) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah: 153) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (QS.Muhammad: 31) Dan ayat-ayat yang memerintahkan sabar dan menerangkan keutamaannya sangat banyak dan dikenal.
Pengertian dan Jenis-jenis Sabar Ash-Shabr (sabar) secara bahasa artinya al-habsu (menahan), dan diantara yang menunjukkan pengertiannya secara bahasa adalah ucapan: “qutila shabran” yaitu dia terbunuh dalam keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara syari’at adalah menahan diri atas tiga perkara:
yang pertama: (sabar) dalam mentaati Allah,
yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan
yang ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan. Inilah macam-macam sabar yang telah disebutkan oleh para ‘ulama. Jenis sabar yang pertama, yaitu hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah zakat dan masalah haji. Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya,
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (QS.Ali ‘Imraan: 200) Allah juga berfirman “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS.Thaha: 132) “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (QS.Al-Insan: 23-24) Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (QS.Al-Kahfi: 28) Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua, yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak. Maka kita harus menahan diri kita dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu. Diantara contoh dari jenis sabar yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf ‘alaihis salaam dari ajakan istrinya Al-’Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf, dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS.Yusuf: 33) Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
Jenis sabar yang ketiga, yaitu sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia). Karena sesungguhnya taqdir Allah ‘Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan. Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya. Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan. Allah berfirman: “Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (QS.Al-Insan: 24) Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir. Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS.Al-Ahqaf: 35) Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya. Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau: “Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut).” (HR.Bukhariy dan Muslim)
Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah
Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan: Keadaan pertama: marah Keadaan kedua: bersabar Keadaan ketiga: ridha Keadaan keempat: bersyukur. Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah. Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya. Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah – dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini. Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: “Duhai celaka, duhai binasa!”, atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah ‘Azza wa Jalla dan yang sejenisnya. Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini. Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan. Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut. Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut. Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.” Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya. Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: “Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?” Maka dia menjawab: “Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya.” Tingkatan Sabar Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka’at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini. Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar. Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi’lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan. Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya. Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq. (Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin) (Sumber: Bulletin Al Wala’ wa Bara’, Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo’dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung) ( 7 Kelebihan BERSABAR)1.Sabar adalah sifat mulia (mahmudah) yang mesti dimiliki oleh setiap ummat Islam 2.Untuk memiliki sifat sabar, perlulah ada latihan yang berterusan
3.Orang berusaha melatih dirinya bersabar dan terus bersabar adalah orang dikasihi serta dekat dengan Allah SWT. Allah memandangnya dengan pandangan kasih, rahmat dan cinta.
4.Orang yang banyak bersabar dalam membentuk dirinya tidak akan disia-siakan Allah SWT.Akhirnya, dia akan ditulis di sisi Allah sebagai hamba yang penyabar.
5.Apabila seseorang memiliki sifat sabar, maka ia telah memiliki kebaikan dan keuntungan yang banyak.
6.Apabila seseorang dianugerakan sifat sabar, maka ketahuilah bahawa Allah SWT mahu
memberikan kepadanya manfaat yang besar lagi luas, berpanjangan dari dunia sampai akhirat. 7.Antara keutamaan sifat sabar ialah : masuk Syurga tanpa dihisab, diampunkan dosa-dosa lalu dan memiliki iman yang sejati. SIAPAKAH YANG MENYAHUT RINTIHAN DERITA INSAN? Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin (sertai facebook DrMAZA.com) Disiarkan pada May 27, 2011
Insan itu insan. Terdedah kepada kesusahan dan kesakitan. Terdedah kepada dukacita dan sengsara. Sehebat mana pun dia. Sebesar mana pun pangkatnya. Insan bukan tuhan untuk kebal dari panahan sengsara dan duka. Jika tidak menimpa pada hartanya, menimpa pada tubuhnya. Jika tidak pada tubuhnya, menimpa pada maruahnya. Jika tidak pada maruahnya, pada perasaannya yang derita disebabkan pelbagai punca. Mungkin kehilangan orang yang dicinta, atau dikhianati oleh orang disayangi. Segala mungkin. Itulah hakikat kehidupan insan dan itulah hakikat kehidupan setiap makhluk. Apabila insan ditimpa derita, dikepung oleh sengsara, dihambat oleh duka, dia akan berusaha mencari tempat bergantung. Mencari dahan berpaut. Mencari teduhan untuk berlindung. Jiwa dan fikirannya melayang dan meraba; kepada siapakah hendak aku mengadu? Siapakah yang boleh menolong daku? Siapakah yang mampu untuk mengeluarkan aku dari kemudaratan ini?  - Gambar Hiasan Jiwa Hambar Bagi jiwa insani yang renggang dari Tuhan, jiwa insan yang hambar dari kemanisan iman dan hubungan ruhi dengan ilahi, dia akan terus terbayang penolong itu temannya atau orang besar, atau orang berharta, atau orang berkebolehan yang dirasa dapat membantunya. Jika dia sakit, pertama yang terbayang dalam fikirannya wajah para pengubatnya. Jika dia kesesakan harta, dia terbayang sumber-sumber yang boleh dia dapatkan wang. Jika ditindas, dia terbayang wajah mereka yang berkuasa yang dia rasa dapat membantunya. Demikian seterusnya. Jiwa, jantung hatinya sentiasa tersangkut dalam alam makhluk. Tergantung dengan yang lemah sepertinya. Berpaut pada yang rapuh kerana disangkakan kukuh. Lalu Allah pun membiarkannya bersama dunianya yang goyah dan harapan sentiasa terdedah kepada kehancuran. Dia terlupa bahawa betapa ramai pesakit yang gagal diubati. Dia terlupa bahawa betapa ramai yang dikhianati oleh orang yang dipercayai. Dia alpa bahawa betapa ramai yang berkuasa gagal menyelamatkan diri sendiri. Bahkan dia lupa betapa ramai yang berharta, berkuasa dan ternama, Allah kepung hidup mereka dengan pelbagai sengsara. Pergantungan yang sangat lemah. Allah mengingatkan manusia tentang hal ini dengan firmanNya: (maksudnya) “Wahai manusia, diberikan untuk kamu satu perumpamaan, maka dengarlah mengenainya; sesungguhnya mereka yang kamu seru selain dari Allah itu, tidak sama sekali dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka berpakat untuk membuatnya; dan jika lalat itu mengambil sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat menyelamatkan kembali. (maka) lemahlah yang meminta (untuk ditunai hajatnya), dan lemahlah yang diminta (untuk menunaikan hajat)”. (Surah al-Hajj: ayat 73). Demikian perumpamaan yang Allah berikan, gambaran kepada mereka yang bergantung dan menyeru selain Allah dalam mengharapkan pertolongan. Jiwa Mukmin Adapun jiwa yang bergantung dengan Allah, setiap kali dia ditimpa kesusahan perkara yang pertama dan pantas menerpa ke jantung sanubarinya ialah pertolongan Allah; harapan dan pergantungan kepada Allah, doa, sujud, solat, rintihan di kesunyian malam, istighfar dan seumpamanya yang membolehkan Allah mendengar rintihannya. Teringatlah dia akan firman Allah yang menggambarkan keagungan kekuasaanNya: (maksudnya) “Siapakah yang dapat menyahut orang yang dalam kemudaratan, tatkala dia berdoa kepadaNya, serta Dia menghilang keburukan?!”. (Surah al-Naml: ayat 62). Demi sesungguhnya, tiada siapa yang dapat menyahutnya melainkan Allah S.W.T. Keyakinan dan keimanan yang mendalam inilah yang menjadikan doa insan yang bergantung dengan Allah itu pantas diterima. Allah mengeluarkan insan dari kesusahan dengan pelbagai cara dan rupa yang dikehendakiNya. Jarak antara bumi dan langit amat jauh. Masih tidak dapat dihitung oleh manusia. Namun, jaraknya menjadi begitu dekat disebabkan doa yang mustajab dari hamba yang kesusahan. Dengan seruan ‘Ya Allah! Tolonglah daku!’ maka pantas ia sampai ke langit dan pertolongan Allah pun datang dengan cara dan kehendakNya. Tidak Menolak Ikhtiar Bukanlah bererti insan yang bergantung kepada Allah itu menolak pertolongan makhluk dan tidak berikhtiar dalam menyelesaikan masalah. Namun, segala ikhtiar dan usaha itu dilakukan dalam naungan jiwa dan ruh yang sentiasa bergantung dan menyeru Allah. Pertolongan makhluk hanya ‘sebab’ yang berlaku atas kehidupan duniawi, hakikatnya daripada Allah S.W.T. Al-Hafiz Ibnu Kathir (meninggal 774H) dalam tafsirnya, menyebut riwayat dari Wahab bin Munabbih (tabi’i, seorang yahudi yang telah menganut Islam) pernah berkata: “Aku pernah membaca dalam kitab terdahulu, bahawa Allah berfirman: “Demi kemuliaanKU, seandainya segala langit dan sesiapa yang ada padanya, bumi dan sesiapa yang ada padanya melakukan rencana jahat terhadap orang yang berpegang denganKU, sesungguhnya AKU akan jadikan untuknya di celahan itu jalan keluar. Sesiapa yang tidak berpegang denganKu, maka sesungguhnya AKU boleh tenggelamkannya ke dalam bumi di bawah kedua kakinya, AKU jadikan dia di awangan (tiada pergantungan) dan AKU biarkan dia kepada dirinya”. (Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-‘Azim, 10/422. Saudi: Dar ‘Alam al-Kutub). Maksudnya, dalam pelbagai cara Allah boleh menolong hamba yang merintih kepadaNya, dan juga dalam pelbagai cara Allah boleh menjatuhkan hamba yang berpaling dari memanggil kebesaranNya. Doa Yang Ikhlas  Jiwa yang mengharapkan Allah bukanlah sekadar digambarkan dengan pakaian seseorang, atau gelarannya, atau penampilannya. Sebab itu, jangan tertanya-tanya mengapa Allah membiarkan si fulan sedangkan dia nampak kuat agama? Pertamanya, Allah mungkin menolongnya, sedangkan kita tidak menyedarinya. Atau, mungkin kita tidak tahu apa yang tersimpan dalam dadanya. Allah Yang Maha Mengetahui siapakah dia, jauh atau dekat dia dengan Allah. Betapa ramai yang lidahnya menyebut “Ya Allah, tolonglah daku”, tapi sanubarinya masih terikat dan bergantung kepada makhluk. Bunyi nada suaranya mungkin kedengaran sebak, tetapi tauhid tidak bulat dan penuh ikhlas, maka doanya tidak disahut. Demikian apabila kita lihat seorang yang mungkin kelihatan ‘biasa’ sahaja, tetapi setiap kali dia menyebut “Ya Allah, tolonglah daku”, pertolongan pantas sampai kepadanya. Ini disebabkan ruhnya yang penuh pergantungan kepada Allah, tanpa sebarang syirik atau harapan kepada selainNya. Ini yang disebut oleh Nabi s.a.w: “Boleh jadi orang yang kusut masai, berdebu, yang dihalau di pintu (tidak diterima kedatangannya), jika dia bersumpah dengan nama Allah nescaya Allah tunaikan”. (Riwayat Muslim). Jika insan ikhlas dan membulatkan pergantungan kepada Allah, Allah menerima harapannya, sekalipun dahulunya dia pernah melakukan dosa syirik dan kejahatan pun, Allah tetap akan mendengar rayuan. Dengan syarat dia hendaklah penuh ikhlas kepada Allah ketika doanya. Al-Imam al-Qurtubi (meninggal 671H) dalam tafsir ketika menghuraikan firman Allah tadi: (maksudnya) “Siapakah yang dapat menyahut orang yang dalam kemudaratan, tatkala dia berdoa kepadaNya, serta Dia menghilang keburukan?!”, dia berkata: “Allah menjamin menyahut orang yang kemudaratan apabila dia berdoa kepadaNya. DIA memberitahu mengenai diriNya. DIA menerima doa orang yang dalam kemudaratan sebabnya keadaan doa ketika dururat (kesusahan yang amat) itu terbit dari keikhlasan, terputus hubungan hati sanubari dengan selain Allah. Bagi keikhlasan itu suatu kedudukan dan jaminan di sisi Allah. Ini boleh ada pada orang mukmin dan kafir, yang taat dan yang jahat. Persis seperti firman Allah: (maksudnya) “Dialah yang menjalankan kamu di darat dan di laut; sehingga apabila kamu berada dalam dalam bahtera, dan bahtera itu pula bergerak laju membawa penumpang-penumpangnya, dengan tiupan angin yang baik, dan mereka pun bergembira dengannya; tiba-tiba datanglah angin ribut yang kencang, dan datang pula kepada mereka ombak dari segala penjuru, dan mereka percaya bahawa mereka diliputi oleh bahaya; pada saat itu mereka semua berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan kepercayaan mereka kepadanya (sambil merayu dengan berkata): “Demi sesungguhnya! jika Engkau (Ya Allah) selamatkan kami dari bahaya ini, kami akan menjadi orang-orang Yang bersyukur” (Surah Yunus, ayat 22). Firman Allah juga: (maksudnya) “Maka apabila mereka naik bahtera (lalu menemui sesuatu bahaya di laut), mereka memohon pertolongan kepada Allah dengan mereka mengikhlaskan kepadaNya agama, kemudian setelah Allah menyelamatkan mereka (naik) ke darat, mereka melakukan syirik kepadaNya” (Surah al-Ankabut, ayat 65). (kata al-Qurtubi lagi) “DIA menyahut doa mereka ketika darurat dan berlakunya keikhlasan mereka, sedangkan DIA tahu bahawa mereka akan kembali kepada kesyirikan dan kekufuran mereka” (al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Quran, 13/223. Beirut: Dar al-Fikr)
Fitrah insani akan memanggil Allah dengan penuh ikhlas apabila dia dalam kesusahan. Sehingga ada yang pernah kufur dan sesat akan kembali ikhlas memanggil Allah dengan penuh keikhlasan apabila dia terdesak –seperti al-Quran gambarkan di atas-. Bagaimanakah seorang muslim gagal untuk mengikhlaskan jiwa memanggil Allah dengan penuh keikhlasan pabila dia dalam kemudaratan?! Bagaimana mungkin insan mencari ‘kabel’ atau saluran pertolongan, merayu dan merintih, mengharap dan meminta kepada selain Allah apabila dia ditimpa kesusahan? Jika dia menyeru Allah dalam kesusahan, mengapakah pula dia gagal mengikhlaskan tauhid dan pergantungan kepadaNYa? Sedangkan Allah menjamin untuk menerima doa penuh ikhlas tanpa syirik daripada hamba-hambaNya yang dalam kemudaratan. Siapakah lagi yang dapat mendengar rintihan kesusahan ini? hanyalah ALLAH, tiada sekutu bagiNya Assalammualaikum...
life is a test. sometimes, what you wish for, may not get fulfilled. sometimes, what you think was righfully yours, may be taken out of your hand. sometimes, you want something, you know you cannot have. for life given to us has purpose. Ya Allah, it's ok. it's ok with this test, i will go through it, i will not get upset, i will not cause people pain. other than this pain i have in my heart, i seek you to ease me, i will hold on to you, all my might, until i die.
Ya Allah, the world is really turning mad. sometimes i feel lost, time flies and i do not know if i have spent the times i had doing good deeds, or i was just wasting time, cashing out of what i need when i come and see you. Ya Allah, give me chance to correct all the wrongs that i have done, i seek you Ya Allah to lead me the way, to become the person that you will love. amin.
Ya Hayyu Ya Qayyum... when the time comes for me to continue my journey to another world, I seek you mercy to take me together will my children Ya Allah. Please. Amin.  | Talaqi? | Feb 24, '11 2:17 AM for everyone |
"talaqi itu sebuah majlis mempelajari ilmu secara bersanad yang melazimi tiga perkara:guru,ilmu,proses pembelajaran.Dimana dalam majlis ini terdapat pertemuan diantara penuntut dan gurunya.Dalam majlis ini,guru akan membaca kitab dari kulit ke kulit,lalu disyarahnya (dihuraikan) setiap apa yang dibacanya kepada para penuntutnya bait demi bait.Boleh sahaja jika diambil ilmu tersebut melalui pembacaan buku-buku dan melalui internet tetapi itu tidak dipanggil sebagai talaqi..” (Almuhtaram Ustaz Muhadir Bin Haji Joll)
di petik dari blog tintabidadarisyurga.blogspot
Introspeksi Diri di Bulan Suci Ramadhan Ahad, 08 Oktober 2006 - 17:35:07 :: kategori Fiqh Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq .:  :. Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ “Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492. Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup Kedatangan Ramadhan akan disambut dengan penuh kegembiraan oleh insan beriman yang selalu merindukan kehadirannya dan menghitung-hitung hari kedatangannya. Banyak keutamaan yang dijanjikan untuk diraih dan didapatkan di bulan mulia ini, di antaranya seperti tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita dalam rubrik ‘Hadits’ kali ini. Dan keutamaan yang tersebut dalam hadits di atas didapatkan sejak awal malam Ramadhan yang mubarak sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini: إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960) Pada bulan yang penuh barakah ini, kejahatan di muka bumi lebih sedikit, karena jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas untuk menyebarkan kerusakan di tengah manusia sebagaimana hal ini dapat mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Di hari-hari itu kaum muslimin tersibukkan dengan ibadah puasa yang dengannya akan mematahkan syahwat. Juga mereka tersibukkan dengan membaca Al-Qur`an dan ibadah-ibadah lainnya. (Al-Mirqah, Asy-Syaikh Mulla ‘Ali Al-Qari pada ta’liq Al-Misykat 1/783, hadits no. 1961) Ibadah-ibadah ini akan melatih jiwa, membersihkan dan mensucikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183) Karena amal shalih banyak dilakukan, demikian pula ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah, ditutuplah pintu-pintu jahannam dan dibuka pintu-pintu surga. (Shifatu Shaumin Nabiyyi n fi Ramadhan, hal. 18-19) Makna ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan dengan setan di sini adalah مَرَدَةُ الْجِنِّ sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata مَرَدَةٌ adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata الْمَارِدُ yaitu الْعَاتِي الشَّدِيْدُ , maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas (lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran. Kita perlu nyatakan hal ini, kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu, agar jangan sampai engkau mengatakan: “Kami mendapatkan beberapa perselisihan dan fitnah di bulan Ramadhan (lalu bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu sementara kejahatan tetap ada? -pent.).” Kita jawab bahwa yang dibelenggu adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek dan tabiat yang memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat. (Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163) Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullahu berkata dalam Shahih-nya (3/188): “Bab penyebutan keterangan bahwa hanyalah yang diinginkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ hanyalah jin-jin yang jahat, bukan semua setan. Karena nama setan terkadang diberikan kepada sebagian mereka (tidak dimaukan seluruhnya).” Di bulan yang mubarak ini ada malaikat yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru untuk mengurangi kejelekan sebagaimana dalam lafadz hadits: وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ “Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.” Hadits-hadits tentang Keutamaan Ramadhan Selain hadits di atas, banyak lagi hadits lain yang berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Di antaranya akan kita sebutkan berikut ini: 1. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 1778) 2. Dari ‘Imran bin Murrah Al-Juhani radhiallahu 'anhu, ia berkata: Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَأَنَّكَ رَسُوْلَ اللهِ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأَدَّيْتُ الزَّكاةَ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، فَمِمَّنْ أَنَا؟ قَالَ: مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ “Wahai Rasulullah, apa pendapat anda bila aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, aku mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat dan puasa di bulan Ramadhan, maka termasuk dalam golongan manakah aku?” Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk golongan shiddiqin dan syuhada.” (HR. Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya, dan lafadz yang disebutkan adalah lafadz Ibnu Hibban. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 989) 3. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ، لِلَّهِ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ “Telah datang pada kalian Ramadhan bulan yang diberkahi. Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan atas kalian untuk puasa di bulan ini. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu setan-setan yang sangat jahat. Pada bulan ini Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, 2/385, An-Nasa`i no. 2106, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 985, Al-Misykat no. 1962) 4. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: الصَّلَوَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةَ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 549) Cukuplah kiranya keutamaan bagi Ramadhan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala memilihnya di antara bulan-bulan yang ada untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan kitab-Nya yang mulia di bulan berkah tersebut, di malam yang penuh kemuliaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur`an itu pada malam Qadar (malam kemuliaan).” (Al-Qadar: 1) Puasa Semestinya membuahkan Takwa Hikmah disyariatkannya puasa dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183) Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullahu berkata: “Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya: - Orang yang puasa meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala haramkan kepadanya berupa makan, minum, jima’ dan semisalnya, sementara jiwa itu condong kepada perkara yang harus ditinggalkan tersebut. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengharapkan pahala-Nya. Ini termasuk takwa. - Orang yang puasa melatih jiwanya untuk merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala (muraqabatullah), maka ia meninggalkan apa yang diinginkan jiwanya padahal ia mampu melakukannya, karena ia mengetahui pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadapnya. - Puasa itu menyempitkan jalan setan, karena setan itu berjalan pada anak Adam seperti peredaran/aliran darah. Dan puasa akan melemahkan jalannya sehingga mengecilkan perbuatan maksiat. - Orang yang puasa umumnya memperbanyak amalan ketaatan sementara amalan ketaatan termasuk perangai takwa. - Orang yang kaya jika merasakan tidak enaknya lapar maka mestinya ia akan memberikan kelapangan/memberi derma kepada orang-orang fakir yang tidak berpunya. Ini pun termasuk perangai takwa. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 86) Dengan demikian sungguh tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa seharusnya momentum Ramadhan dijadikan langkah awal untuk memperbaiki iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk kemudian iman dan takwa itu terus dipupuk dan dirawat di bulan-bulan selanjutnya. Dan jangan dibiarkan terpisah dari jiwa dan raga hingga datang jemputan dari utusan Ar-Rahman (malaikat maut). Khususnya kita –penduduk negeri ini– seharusnya berkaca diri berkaitan dengan segala petaka yang menimpa negeri kita, demikian pula musibah yang datang terus menerus, lagi susul menyusul. Tidaklah semua ini menimpa kita kecuali karena dosa-dosa kita dan jauhnya kita dari iman serta takwa kepada Al-Khaliq. ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan/ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41) وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيْرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (Asy-Syura: 30) Musibah yang menimpa negeri ini berupa gempa, tsunami, meletusnya gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, dan sebagainya bukanlah karena kesialan penguasa/pemerintah sebagaimana tuduhan orang-orang dungu atau pura-pura dungu. Namun justru karena dosa-dosa yang ada di negeri ini. Terlepas apakah bencana ini karena rekayasa asing yang ingin menjatuhkan dan menghancurkan negeri ini sebagaimana analisa sebagian orang, atau murni musibah tanpa rekayasa, toh semuanya ditimpakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai teguran bagi kita agar kembali kepada-Nya. Bangkit dari lumpur hitam dosa dan maksiat, untuk kemudian bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya. Yang sangat disesalkan, di antara penduduk negeri ini banyak yang tidak sadar dari maksiat mereka dengan musibah yang menimpa. Mereka malah melakukan praktik-praktik kesyirikan, membuat sesajen penolak bala yang dipersembahkan kepada roh-roh penguasa laut, penguasa gunung, penguasa darat, dan sebagainya. Na’udzubillah min dzalik!!! Sehubungan dengan momentum Ramadhan sebagai bulan untuk menambah iman dan takwa, serta terkait dengan banyaknya musibah yang menimpa negeri ini, bagus sekali untuk kita nukilkan nasihat dari Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkenaan dengan musibah yang menimpa anak Adam, khususnya gempa bumi [1]. Mudah-mudahan nasehat ini bisa menjadi renungan bagi anak negeri ini. Beliau rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Memiliki hikmah Maha Mengetahui terhadap apa yang Dia putuskan dan tetapkan, sebagaimana Dia Maha Memiliki Hikmah lagi Maha Mengetahui dalam apa yang Dia syariatkan dan perintahkan. Dia menciptakan apa yang diinginkan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia tetapkan hal itu untuk menakut-nakuti hamba-Nya dan mengingatkan mereka tentang hak-Nya dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, penyelisihan terhadap perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya.” Selanjutnya beliau menyatakan: “Tidaklah diragukan bahwa gempa yang terjadi pada hari-hari ini di banyak tempat/negeri merupakan sejumlah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta'ala hendak menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Seluruh musibah gempa yang terjadi dan perkara lainnya yang membuat kemudharatan para hamba dan menyebabkan gangguan bagi mereka, adalah disebabkan kesyirikan dan maksiat.” مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ “Tidaklah satu kebaikan menimpamu melainkan itu dari Allah dan tidaklah satu kejelekan menimpamu melainkan karena ulah dirimu sendiri.” (An-Nisa`: 79) Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata: “Yang wajib dilakukan oleh seluruh muslimin adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, istiqamah di atas agamanya dan berhati-hati dari seluruh perkara yang dilarang berupa syirik dan maksiat. Sehingga mereka memperoleh pengampunan, kelapangan, keselamatan di dunia dan di akhirat dari seluruh kejelekan, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menolak dari mereka seluruh musibah, lalu menganugerahkan kepada mereka setiap kebaikan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ “Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa yang dulunya mereka upayakan.” (Al-A’raf: 96) Kemudian Syaikh menukilkan ucapan Al-’Allamah Ibnul Qayyim rahimahullahu: “Di sebagian waktu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan bumi untuk bernapas panjang. Ketika itu terjadilah gempa/goncangan yang besar, sehingga menimbulkan ketakutan pada hamba-hamba-Nya, lalu mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mencabut diri dari maksiat, tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menyesali diri, sebagaimana ucapan sebagian salaf ketika terjadi gempa bumi: ‘Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian.’ Ketika terjadi gempa di kota Madinah, ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu berkhutbah dan memberi nasehat kepada penduduk Madinah dan beliau berkata: ‘Kalau gempa ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal bersama kalian di Madinah ini.’ Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menasehatkan: “Ketika terjadi gempa bumi dan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala lainnya, gerhana, angin kencang dan banjir, yang wajib dilakukan adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tunduk menghinakan diri kepada-Nya dan memohon maaf/kelapangan-Nya serta memperbanyak mengingat-Nya dan istighfar pada-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Apabila kalian melihat gerhana maka berlindunglah kalian dengan zikir/mengingat Allah, berdoa kepada-Nya dan istighfar.” Disenangi pula untuk memberikan kasih sayang kepada fakir miskin dan bersedekah kepada mereka dengan dalil sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ “Orang-orang yang menyayangi (memiliki sifat rahmah) akan dirahmati oleh Ar-Rahman. Sayangilah orang yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan merahmati kalian.” [2] مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ “Siapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi/dirahmati.” [3] Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bahwa beliau mengirim surat kepada gubernur-gubernurnya ketika terjadi gempa agar mereka bersedekah. Termasuk sebab kelapangan dan keselamatan dari semua kejelekan adalah agar pemerintah bersegera mengambil tangan rakyatnya dan mengharuskan mereka untuk berpegang dengan kebenaran dan menjalankan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala pada mereka serta amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ “Kaum mukminin dan mukminat sebagian mereka adalah wali/kekasih bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dirahmati Allah.” (At-Taubah: 71) Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى معْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ “Siapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu bencana/kesulitan dunia niscaya Allah akan melepaskannya dari satu bencana di hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutup kejelekan/cacat seorang muslim, Allah pun akan menutup cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” [4] Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Ibnu Baz –semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan melapangkan beliau di kuburnya, amin–. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati penduduk negeri ini dan menghilangkan musibah dari mereka serta memberi taufik kepada mereka agar bertaubat dan kembali kepada agama-Nya yang benar. Semoga penduduk negeri ini mengambil pelajaran yang berharga di bulan mubarak ini, bulan Ramadhan nan penuh keberkahan, menambah iman dan takwa mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga mereka menjadi , orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Allahumma amin. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. Footnote : 1. Dinukil secara ringkas dari kitab Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 9/148-152. 2. HR. At-Tirmidzi no. 1924, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 922 3. HR. Al-Bukhari no. 7376 4. HR. Muslim no. 6793 (Dikutip dari Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol.III/No.26/1427 H/2006, tulisan Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari, judul asli Introspeksi Diri di Bulan Ramadhan. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=374) 1) Berapa peratuskah masa bagi seorang wanita untuk disalurkan kepada rumahtangga dan berapa peratuskah masa yang perlu diperuntukkan kepada dakwah di luar rumah? Rumahtangga adalah salah satu dari medan dakwah. Mendidik keluarga untuk mentaati Allah dan ubudiah kepada Allah swt adalah tugas asasi bagi mereka yang telah berkeluarga. Suami dan isteri, atau ibu dan bapa seharusnya memastikan anak-anak mereka mendapat tarbiah Islamiah yang sempurna, merangkumi semua aspek, aqidah, akhlaq, kejiwaan, rohani dan jasmani seperti yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya. Kesemua tugas tersebut mesti dilakukan dengan baik, bukan semberono. Kerana rumahtangga yang lintang pukang, anak-anak yang tidak terurus akan menjadi fitnah kepada dakwah itu sendiri sekaligus member imej negatif kepada sesiapa sahaja yang memerhatikannya. Firman Allah: يايهاالذين امنوا قوا أنفسكم و أهليكم نارا Maksudnya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka. [Surah At-Tahrim: 6] Dalam masa yang sama seorang wanita turut mempunyai tanggungjawab untuk menyebarkan dakwah kepada masyarakat, yang juga memerlukan dakwah. Satu medan yang memerlukan kepada pengorbanan yang tinggi. Maka wanita mesti bijak dalam memastikan kedua-dua tanggungjawab ini tidak terabai. Berapa banyak peratus masa yang perlu dibahagikan antara rumahtangga dan dakwah di luar rumah adalah tertakluk kepada situasi dan keperluan kedua-dua institusi tersebut. Jika anak-anak masih kecil dan ramai pula, tiada pembantu, maka peratusannya mungkin lebih sedikit, berbanding dengan situasi sebaliknya. Wanita yang anaknya tidak ramai atau sudah besar-besar adalah mungkin mempunyai lebih banyak masa untuk diwaqafkan kepada dakwah. Begitu juga dengan dakwah di luar, jika keadaannya agak kritikal maka harus diberikan tumpuan lebih kepadanya, perlu dikorbankan seketika segala urusan lain. Di sinilah perlunya kita menimbang mana yang lebih penting daripada yang penting. Ringkasnya untuk memastikan keluarga dan dakwah di luar berjalan dengan lancar, seorang wanita itu harus pandai membahagikan masanya, bersistem dalam melaksanakan segala tugas dan tanggungjawab. Secara logiknya wanita yang kreatif dan aktif mampu membuat dua kerja dalam satu masa, manakala seorang yang lemah dan pasif satu kerja pun belum pasti selesai. Biarlah masa yang diberikan untuk mana-mana pihak itu digunakan dengan efektif. Tidak ada ertinya memperuntukkan masa yang banyak tetapi berlalu tanpa membuat sesuatu yang berfaedah. Amal jamaiy adalah antara satu penyelesaian. Kerana kerja dakwah tidak mampu dilakukan dengan seorang diri. Dengan amal jamaiy urusan dakwah akan lebih tersusun. Pengagihan tugas akan dilakukan mengikut kesesuaian dan tuntutan dakwah semasa yang mempunyai fasa dan marhalahnya yang tersendiri. Kerana fard muslim itu ibarat batu bata yang saling kukuh mengukuhi antara satu sama lain dalam satu bangunan. Semoga iltizam yang tinggi, sifat tajarrud dan pengorbanan yang tinggi akan memudahkan segala urusan. Berazam dan bertawakkallah kepada Allah. 2) Di manakah titik pengakhiran bagi seseorang wanita untuk tidak lagi bergiat aktif di luar rumah? Kenapa sudah fikir untuk mencari titik pengakhiran dalam dakwah, sedangkan kita baru sahaja bermula. Selama ini pun kita hanya buat dakwah secara part time bukan sepenuh masa… maka layakkah untuk kita berhenti atau tarik diri? Titik pengakhiran bagi seorang wanita untuk aktif di luar sana sama sahaja dengan lelaki. Iaitu sehingga tibanya kematian. Tidak ada istilah rehat atau pencen dalam dunia dakwah. Cuma mugkin bentuk dan caranya mungkin berbeza. Perkara ini telah dibuktikan oleh para sahabiah di zaman Rasulullah. Lihat sahaja Saidatina Khadijah, Aisyah, Fatimah, Asma’ dan ramai lagi, pernahkah mereka berhenti atau berakhir di satu titik dalam kehidupan mereka untuk memberi sumbangan kepada dakwah sebelum mereka wafat? Kerana umur dakwah itu tidak boleh diukur dengan umur manusia, tetapi dakwah berterusan sehinggalah ke hari kiamat. Sesebuah institusi dakwah yang tersusun tentu akan meletakkan setiap ahlinya di posisi yang sesuai, dengan mengambil kira faktor usia, ilmu, pengalaman, kesihatan dan seumpamanya agar ia sentiasa dapat mengecapi pahala dakwah hingga ke akhir hayat. Seni dakwah itu pelbagai, berdakwah dengan penulisan, berdakwah dengan perkataan, memberi idea, merancang dan sebagainya. Pasti ada yang sesuai dengan kemampuan dan bakat anda, walau sudah menjangkau usia senja. Kedua, para daieyah bilangannya lebih sedikit dari golongan yang akan didakwahkan. Seandainya bilangan yang ada akan pencen maka dikhuatiri dakwah ini akan sentiasa kekurangan tenaga, sedangkan kekosongan dalam banyak bidang dalam arena dakwah ini perlu sentiasa diisi dan ditambahbaikan. Malahan semakin lama seseorang itu dalam dakwah semakin berharga pengalamannya untuk diperturunkan kepada generasi baru, untuk dikongsi dan diupgradekan. Inilah jalan dakwah yang telah kita pilih yang akan diperjuangkan sehingga nafas terakhir. Firman Allah: قل هذه سبيلي أدعوا الى الله عتى بصيرة أنا ومن اتبعنى وسبحان الله وما انا من المشركين Maksudnya: Katakanlah (Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk rang-orang yang musyrik. [Surah Yusuf: 108] Sekian. Wallahu A’lam. Disediakan oleh:  Ustazah Norlida bt Kamarudin, Naib Ketua Wanita, Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) * Disesuaikan daripada ruangan soal jawab di laman web rasmi Majlis Ulama’ ISMA (MUIS).  | mahabbah | Aug 10, '10 8:57 PM for everyone |
Mahabbah Album : Mahabbah Munsyid : Rabbani http://liriknasyid.com
Cinta menuju jalan Illahi Cinta haqiqi yang amat suci Tenang terasa...rindu padaNya Bila mendapat siraman hidayah
Lisan bertasbih...berzikir dengan ma'arifah Taubat menyusul memohon maaf padaNya Menyesali...menyesal...menyesal atas dosa-dosa
Jiwa insani hidup bernadi Tulus sejernih embun syurgawi Saat melakar cinta sejati Allah disembah sering diingati
Rela diuji asalkan kasih bersemi Biarlah derita pengubat kasih sayangNya Itulah...Tajalli...cintakan Allah Mahabbah...Mahabbah...Mahabbatullah
Kesunyian jiwa...kegersangan iman... Kehilangan bahagia...sesat di persimpangan Pengajaran bayangan seksa dunia
Kembali...kembali...kembalilah... pada Allah Carilah...carilah...carilah... CintaNya
Rela diuji asalkan kasih bersemi Biarlah derita pengubat kasih sayangNya Itulah...Tajalli...cintakan Allah Kembali...kembali...kembalilah...pada Allah Mahabbah...Mahabbah...Mahabbatullah
| Mahabbah | | Mahabbah | | Rabbani | |
Assalammualaikum... hehehe the past few entries, has always been dark and gloomy, unhappy and sad.. Alhamdulillah, it is sunny and cheery now. Begitulah kejadian Allah, ada siang, ada malam, ada pasang, ada surut nya, ada matahari, ada bulan dan bintang... hmm... teringat surah ar-rahman, "maka nikmat Allah yang manakah yang cuba kamu dustakan?" astaghfirullah'aladzim... dalam duka nestapa pun Allah tetap beri nikmat dan kurnia, nikmat bernafas, nikmat makan, nikmat tidur, nikmat pemandangan alam... bagi mereka yang mahu bersyukur. :D i am not the person yang pandai berdakwah... hanya cukup ilmu untuk sendiri makan sahaja... but i express my feelings, kalau betul, betul lah, kalau salah, insyaAllah, mohon pada Allah, berikan aku petunjuk Mu... amin!!!! so, problems? yes! i do have problems... all around me, problem kerja, problem duit, problem adik beradik, problem anak, problem macam-macam... tapi, takder lah sampai sengal fikiran. sikit-sikit tuh sengal jugak, but not to the extend kalau ada problem ngan abang... adus... yang tuh kalau ada problem rasa cam nak give up semua... maka yang tu lah yang Allah selalu uji aku... tau dah! so, hmm... sekarang yang buat aku pening ialah problem dengan adik beradik. ramadhan dah nak datang, ada kisah dari hadis nih sebagai pedoman: Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah S.A.W dan para sahabatnya. Saat itu malam hari raya seperti biasanya Rasulullah S.A.W dan para sahabat membaca Takbir, Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram. Saat sedang bertakbir, tiba- tiba Rasulullah S.A.W keluar dari kelompok dan menepih kearah dinding. Kemudian Rasulullah S.A.W mengangkat kedua tangannya (layaknya orang berdoa) saat itu Rasulullah S.A.W mengatakan amin sampai tiga kali. Setelah Rasulullah S.A.W mengusapkan kedua tangan diwajahnya (layaknya orang selesai berdoa) para sahabat mendekati dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang terjadi sehingga engkau mengangkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan amin sampai tiga kali?” Jawab Rasulullah S.A.W, “Tadi saya didatangi Jibril dan meminta saya mengaminkan doanya.” “Apa gerangan doa yang dibacakan Jibril itu ya Rasulullah?” tanya sahabat. Kemudian Rasulullah S.A.W menjawab, “Kalau kalian ingin tahu inilah doa yang disampaikan Jibril dan saya mengaminkan”: 1. Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum dimaafkan?. Rasulullah S.A.W mengatakan Amin.
2. Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan.? Rasulullah S.A.W mengatakan Amin.
3. Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia dengan tetangga dan kerabatnya masih berselisih dan belum saling Memaafkan.? Rasulullah S.A.W mengatakan Amin.
Demikianlah doa yang dibaca Jibril sehingga Rasulullah S.A.W mengaminkan sampai tiga kali. Namun disini ada 4 Faktor yang membuat doa tersebut pasti dikabulkan Allah iaitu: 1. Yang berdoa Jibril Mahluk yang sejak diciptakan tidak pernah membantah dan berbuat dosa kepada Allah.
2. Yang mengaminkan doa tersebut Muhammad manusia Maksum yang telah diampuni semua dosanya.
3. Tempat berdoa adalah Masjidilharam tempat yang mendapat berkah dari Allah.
4. Waktu berdoa adalah malam aidil fitri iaitu satu diantara sepuluh malam jika kita berdoa langsung di ijabah oleh Allah.
Jadi, jika kita ingin amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima Allah, maka hindarilah tiga yang diatas kerana selama tiga persoalan di atas belum diselesaikan maka amal ibadah kita selama bulan Ramadhan masih dipending oleh Allah sampai kita menyelesaikannya. Sekian sahaja renungan buat kali ini.. semoga beroleh hidayah dan petunjuk dari Ilahi.. (dipetik dari entry It's My Life) so, hmm... how? forgive and forget but i cannot just let him do what he did.. Ya Allah, beri aku petunjuk Mu... amin! assalammualaikum... eversince came back from perhentian, my mind was not settled. I was upset on something, but i managed to hide it. i guess... somehow, i cudnt control my frustrations last thursday nite when i sent the goods to the bus for terengganu. frustrations beyond words, my hands were trembling when i sent dozens of smss. and after the sms went flying, i was feeling remorse. i should have not let it go... Ya Allah, i thought i was strong, but i was not. i am not. then, things started to ... i dont know. i've been reading the quran ever since i got back from perhentian, i cried everytime when i read the translation. i was afraid of the words of Allah. I was afraid to be cut out of His Love and Blessings...inside me, there was a raging war, between to go or to stay. To go means, I am being impatient, i cannot stand it.. thus, i am not among the sabireen. to stay means, i am subject to be blamed, to be accused, to be unjust, to be treated coldly, to be punished, to be pinnalised. i seek for Allah to guide me, to show me the way, and I found this blog by a girl using a name "Insyirah Solehah". inysirah is my dotter's name. and i wish so much for insyirah to turn out like this niqob girl. insyaAllah. though sometimes, when i was in my prayer, i ask Allah, can i have my children to be amont those soliheen when i am a 'stained' muslimah myself...(if i am a muslimah at all..). a 'stained' person with sins in my jahiliyyah years. even now i consider myself a jahil and i'll be awed everytime i received new lessons. my knowledge is very shallow and every words i read from niqobgirl, gives me new lessons, renew my faith and i cant stop crying for i feel so small at my age twice of hers. Ya Allah, though, i am thankful, because somehow, I arrived to learn, though pretty late. and i wish i wish i wish i wish i wish, insyirah my beloved daughter, will follow the footsteps of this virtual insyirah i really adore. i wish i cud find the strength to write to this serikandi who has touched my heart, to re-think, re-consider and re-look at my beliefs. Allah is great! assalammualaikum... :'(
i dont know what to write. dont feel good and feel like going away.
Sujud Artist : Mawi Feat KRU Title : Sujud Mawi: Bila dilanda musibah Hati tabah mula rebah Jangan biarkan dugaan Rapuhkan pedoman hidup Andai waktu itu tiba Semaikan sifat bersabar Hanya Dia saja menentu Dan kita hanya mampu sujud KRU: Jika direnung kembali Diari kehidupan Pelbagai halangan kutempuh penuh cabaran Tiada satupun ku hadapi dengan senang dan Tiada satupun ku hadapi dengan tenang Tapi ku bersyukur Di saat ku murung Ku rumus impian dalam kedua telapak tangan Semangat yang dah luntur Harapan yang dah terkubur Diberi arah tuk ku teruskan Mawi: Bila dilanda musibah Hati tabah mula rebah Jangan biarkan dugaan Rapuhkan pedoman hidup Andai waktu itu tiba Semaikan sifat bersabar Hanya Dia saja menentu Dan kita hanya mampu sujud…… Hanya mampu sujud….. KRU: Pernah kulihat mereka Yang hilang segalanya Insan yang tersayang Atau harta benda Pancaroba bencana juga malapetaka Adalah sebahagian ujian dunia Di sebalik kesusahan Tidak letih mengerti erti kesenangan Harusku akur dengan apa yang telah dikurnia Barangkali esok semua berubah Janganlah kita melupakanNya Ketika langit cerah bersinar Janganlah kita melupakanNya Ketika langit mendung tak bercahaya Mawi: Bila dilanda musibah Hati tabah mula rebah Jangan biarkan dugaan Rapuhkan pedoman hidup KRU & Mawi Andai waktu itu tiba Semaikan sifat bersabar Hanya Dia saja menentu Dan kita hanya mampu sujud…… Hanya mampu sujud…..
Bismillahirrahmanirrahim...
assalammualaikum wbk
Ya Allah, sungguh aku tak punya tempat lain untuk mengadu. Terlalu banyak untuk aku rintihkan Ya Allah. namun aku malu, apa yang harus aku katakan padamu sedangkan aku hamba Mu yang lemah, kotor, hina Ya Allah... aku hambaMu yang lalai, hamba Mu yang leka, namun hamba Mu ini mengharap pada kasih Mu Ya Allah, untuk terus wujud di bumi ini sehingga tiba saat untuk aku kembali kepada Mu
Ya Allah, tolong lah aku untuk pujuk hati ini Ya Allah. Aku insan tak punya harta, aku tak punya kemewahan, sedang kan hidup ku bersandar pada ihsan suami. Aku malu Ya Allah. Aku tak mampu... Aku tak setara... dan aku tak mampu bertanyakan pada Mu, persoalan yang membungkam di benakku...
Ya Allah, aku pohon pada Mu, kau permudahkan lah urusan ku di Dunia ini dan di Akhirat kelak Ya Allah... kau tetapkanlah iman anak-anak ku agar mereka tetap dalam ketakwaan kepada Mu... capaikanlah cita-citaku untuk anak-anak ku agar di dada mereka terukir al-quran Mu, kalam Mu... di saat dunia pasti akan menyisihkan mereka, Ya Allah, kau tetapkan lah hati mereka dan kaki mereka agar mereka tegar menyisir jalan-jalan menuju syurga Mu Ya Allah
Ya Allah, aku sedar kekurangan diriku, Ya Rabbi, jangan biarkan ia membuatkan aku menjadi hamba Mu yang ingkar... jangan biarkan aku menjadi hamba Mu yang berputus asa... Ya Allah... ku mohon pada Mu Ya Allah... jadi kanlah aku hamba Mu yang gigih... berikan lah aku kekuatan Ya Allah... hehehe i iknow it has been a long time since i last did anything here. i just want to share what i heard from radio ikim before i forgot all about it. it was usrah rasa hati programme which i think is BRILLIANT! it will always manage to make we cry as the usrah really touch me deep down. for the purpose of sharing and of course, so that i can always come back to refer, i copy the usrah for their website urahrasahati.com... go visit the treasure if you want to be a better person. there are so much to gain. Usrah 46: menggapai redha Allah Rakan Usrah yang dirahmati Allah swt. Hakikat kehidupan ini hanyalah untuk Allah swt semata-mata sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah swt; قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ Maksudnya ; Katakanlah wahai Muhammad sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, matiku hanyalah untuk Allah Tuahan sekelian alam.al-An’am:196. وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ Maksudnya;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Al-Bayyinah:5. Redha Allah swt adalah suatu keadaan dimana Allah swt menerima, suka, sayang, tidak marah atau murka, rela dan setuju terhadap apa yang dilakukan oleh manusia. Keredhaan adalah penerimaan. Keredhaan Allah bermaksud penerimaan dan pengiktirafan Allah swt terhadap hambanya. Orang yang diredhai Allah adalah orang tidak dimurkai Allah swt, hidup mereka sentiasa mendapat kerahmatan dan bimbingan hidayah Allah swt. Rasulullah saw mengajar kita berdoa dengan perataraan redha Allah daripada kemurkaannya. اللهمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ Maksudnya; Ya Allah aku berlindung dengan keredhaanmu daripada kemurkaanmu, aku berlindung dengan kemaafanmu daripada siksaanmu. Justeru tidak ada ertinya hidup seseorang di dunia ini tanpa mendapat keredhaan Allah swt kerana keredhaan Allah swt terhadap manusia merupakan puncak penerimaan segala amalan yang dilakukan oleh manusia. Sebaliknya orang yang tidak mendapat keredhaan Allah swt adalah orang-orang yang rugi samada mukmin yang berdosa, musyrik yang dimurkai atau kafir yang dilaknat oleh Allah swt. Orang yang diredhai Allah swt amat beruntung di akhirat nanti. Firman Allah swt; لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا Maksudnya;Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.al-Nisa’:144. Firman Allah swt; وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ Maksudnya; Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Al-Baqarah:265. Firman Allah swt; الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا Maksudnya; Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Al-Maidah:3. Firman Allah swt; قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Maksudnya; Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. Al-Maidah:119. Firman Allah swt; أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ Maksudnya; Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim. Al-Taubah :109. Sabda Rasulullah saw; رضا الرب فى رضا الوالدين وسخطه فى سخطهما Maksudnya; Keradhaan Allah pada keredhaan ibu dan bapa dan kemurkaan Allah pada kemurkaan keduanya. Justeru, marilah kita sama-sama berusaha mendapatkan redha Allah swt, kerana redha Allah merupakan sebesar-sebesar anugerah yang Allah swt berikan kepada hamba-hambanya yang bertaqwa dan menghampirkan diri kepadanya. by jebbat on Thu May 28, 2009 11:45 am Kepada yang baru nak kawin atau yang nak kawin lagi satu.... Sekadar rujukan kepada semua. Semoga apa yang di lakukan berlandaskan dalil yang sahih... ------------------------------ KUALA LUMPUR 9 Feb. – Beberapa tokoh agama dan budayawan negara hari ini melarang umat Islam daripada memakai inai ala tatu kerana ia bercanggah dengan ajaran agama dan mencerminkan budaya Barat. Menurut mereka, trend yang semakin digilai remaja terutama perempuan itu melambangkan sesuatu yang dilarang, lebih-lebih lagi jika ia berlambang haiwan atau mewakili kumpulan tertentu. Mufti Perlis, Dr. Asri Zainol Abidin berkata, perbuatan itu jelas dilarang dalam hadis terutama jika menggunakan jenis inai yang kekal lama di anggota badan. ''Tak boleh. Jelas ia salah. Kita lihat hari ini ramai remaja yang conteng badan dengan inai. ''Lebih-lebih lagi gambar haiwan. Itu tabiat buruk dan melambangkan keganasan,'' katanya ketika dihubungi Mingguan Malaysia di sini hari ini. Sebelum ini, tokoh ulama terkenal, Datuk Abu Hasan Din berkata, pemakaian inai ala tatu di tangan jelas melanggar hukum syarak. Menurutnya, perbuatan itu jelas salah terutama kepada pengantin yang mengukir tangan mereka dengan corak-corak tatu melampau. Tambah Asri, kelonggaran tetap ada jika pemakaian inai itu berunsur sementara dan tiada halangan untuk air sembahyang melaluinya. ''Tidak apa kalau pakai inai biasa. Tidak salah jika ia hilang selepas dua atau tiga hari di tangan,'' ujarnya. Pendakwah bebas, Daud Che Ngah berkata, pemakaian inai yang bersifat lebih kepada tatu adalah dilarang kerana ia menggambarkan ajaran yang bercanggah dengan agama Islam. Namun menurutnya, pemakaian inai tidak kekal sebenarnya dibolehkan dengan niat untuk berhias kepada suami pada hari perkahwinan. ''Tak ada masalah kalau hendak pakai inai di jari. Tapi kita tengok hari ini macam hendak melukis segala-galanya di tapak tangan. ''Salah kalau sengaja membuat tatu walaupun dengan inai. Tatu itu sendiri dilarang kerana ia bukan budaya kita,'' jelasnya. Sementara itu, budayawan, Prof. Dr. Siti Zainun Ismail berkata, pemakaian inai itu sendiri mewakili adat perkahwinan yang memberi maksud tersendiri kepada masyarakat. ''Orang dulu pakai inai sebab hendak tengok kesucian seorang gadis. Mereka hias pengantin perempuan dengan inai yang tahan untuk sembilan bulan,'' katanya. Oleh itu, kata Siti Zainun, trend wanita sekarang yang gemar memakai inai tanpa tujuan malah mengukir pelbagai gambar di badan dilihat melanggar budaya. *Sumber: Utusan Malaysia 10/02/08 -------------------------------- Berikut ulasan oleh Hizbut Tahrir Malaysia. Inai (hinnaa) bukanlah tatu (syimaah). Inai diekstrak dari tumbuhan sedangkan tatu menggunakan teknik tertentu untuk menanam warna di bawah lapisan kulit. Tatu diharamkan dalam Islam secara mutlak sama ada ianya bercorak haiwan atau selainnya, tetapi inai dibenarkan. Namun, jika menggunakan inai untuk melukis objek yang hidup (bernyawa), maka ini adalah haram. Haram di sini adalah hukum tentang lukisannya, bukan inainya. Masalah melukis/mengukir (taswir) bentuk haiwan adalah haram menurut pendapat yang terkuat [An-Nabhani, Syakhsiyyah Islamiyyah]. Jadi, memakai inai sama ada di jari sahaja atau di mana-mana bahagian badan adalah mubah (harus) dengan syarat ia bukan gambar objek bernyawa dan tidak menggambarkan bentuk hadharah kuffar seperti lambang salib, dewa hindu, budha dan lain-lain. Adapun dalil tentang kebolehan berinai adalah sabda Rasulullah, "Bahawa seorang wanita telah menghulurkan tangannya kepada Nabi SAW dengan sebuah kitab untuk berbai'ah maka Baginda menggenggam tangannya lalu berkatalah wanita tersebut; Ya Rasulullah! Saya telah menghulurkan tangan saya kepada anda dengan sebuah kitab tetapi anda tidak pun mengambilnya. Baginda bersabda, ‘Sesungguhnya aku tidak ketahui adakah ianya tangan lelaki ataukah tangan wanita.’ Wanita itu berkata, ‘Bahkan tangan wanita’. Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Jika anda wanita tentulah anda mengubah (mencelup) kuku-kuku anda dengan inai" [HR An-Nasaei, Abu Daud] Sebenarnya adalah salah apabila berbincang tentang hukum inai dari perspektif budaya. Hukum mestilah berdasarkan nas, bukan berdasarkan budaya. Memanglah bagus apabila umat Islam menolak budaya asing, namun ini tidak bermakna kita dibolehkan mengambil budaya tempatan. Ukurannya di sini adalah nas, bukan budaya itu sendiri. Hujah-hujah golongan yang cuba memperjuangkan kemurnian budaya Melayu (Timur) dengan mencari-cari bukti/dalil yang menyokong tidak ada nilainya di sisi syara’, kerana yang perlu diutamakan (dan wajib diikuti) di sini adalah syara’, bukannya budaya. Lebih ironi, terdapat hujah yang keliru menyatakan boleh berinai kecuali ‘inai menghalang air sembahyang’ dan kemudian mengatakan pula ‘jika hujung jari tak mengapa’ seolah-olah hujung jari bukan anggota wudhu’! Apa yang menyedihkan dalam isu ini adalah apabila golongan agamawan sibuk duduk berbincang soal inai di anggota badan, namun soal mendedahkan aurat (anggota badan) itu sendiri tidak pula di sentuh. Tidak pula kita mendengar tok-tok mufti mengeluarkan fatwa tentang haramnya tidak menutup aurat atau memperlihatkan aurat. Yang sibuk mereka bincangkan adalah haramnya inai yang diukir di anggota badan, walhal masalah utama (iaitu) haramnya memperlihatkan aurat (anggota badan yang diinai) tidak langsung disentuh! Ya-lah, mana ada mufti yang berani hilang jawatan??? Mereka (mufti) lebih suka membincangkan hal-hal furu’ dari membincangkan hukum Islam yang qath’ie haramnya, contohnya, pemerintah yang menerapkan hukum kufur seperti sekarang adalah jelas-jelas haram, kita takkan dengar ada mufti yang sanggup mengeluarkan fatwa tentangnya! Apa taknya, mufti adalah orang yang dilantik oleh kerajaan, maka sudah semestinyalah kerajaan akan mempergunakan mereka untuk kepentingan kerajaan, bukannya untuk kepentingan Islam! Sepatutnya banyak hal lagi yang perlu dititikberatkan oleh golongan agamawan ini, jika mereka benar-benar ikhlas memperjuangkan kebenaran. Isu besar seperti tentang sistem pemerintahan negara, adakah pemerintah telah menerapkan sistem dari Allah sepenuhnya atau tidak, atau pemerintah mengambil sistem demokrasi dari kuffar untuk mengatur umat Islam, ini semua memerlukan penyelesaian segera. Demokrasi, sebuah sistem di mana undang-undangnya dibuat oleh manusia dengan undi majoriti, jelas-jelas bukan berasal dari Islam kerana ianya tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah saw, Khulafa’ Rasyidin dan juga para salafusoleh sehinggalah keruntuhan Khilafah Uthmaniyyah. Demokrasilah yang melahirkan cara hidup yang menghinakan umat Islam di mana segala cara hidup dan budaya yang berasal dari Barat telah diikuti oleh umat Islam. Ia bukan sekadar sistem hidup kufur yang perlu dikebumikan dari kehidupan kaum Muslimin, malah perlu dinukil ke dalam lipatan sejarah ketamadunan manusia sebagai sistem yang paling jijik yang pernah ada.  | Elaika | May 6, '09 12:52 PM for everyone |
raghbatu `abdin fi `afwillah (Imam Syafi`e)
ilaika ilahal khalqi arfa`u raghbati wa in kuntu ya zal manni wal judi mujrima
wa lamma qasa qalbi wa dhaqat mazahibi ja`altur raja minni li `afwika sullama
fa ma zilta za `afwin `aniz zanbi lam tazal tajudu wa ta`fu minnatan wa takarruma
alastal lazi ghazzaitani wa hadaitani wa la zilta mannanan `alaiya wa mun`ima
`asa man lahul ihsanu yaghfiru zallati wa yasturu auzari wa ma qad taqaddama
fa in ta`fu `anni ta`fu `an mutamarridin dzalumin ghasyumin la yuzayilu ma'thama
fa in tantaqim minni fa lastu bi ayisin wa lau adkhalu nafsi bi jurmin jahannama
fasihan iza ma kana fi zikri rabbihi wa fi ma siwahu fil wara kana a`jama
yaqulu habibi anta su'li wa bughyati kafa bi ka lir rajina su'lan wa maghnama
asunu widadi an yudannisahul hawa wa ahfazu `ahdal hubbi an yatathallama
fa fi yaqzati syauqun wa fi ghafwati munan tulahiqu khatwi nasywatan wa tarannuma
fa jurmi `azimun min qadimin wa hadithin wa `afwuka ya'til `abda a`la wa ajsama
desir pasir di padang tandus segersang pemikiran hati terkisah ku di antara cinta yang rumit
bila keyakinanku datang kasih bukan sekadar cinta pengorbanan cinta yang agung ku pertaruhkan
maafkan bila ku tak sempurna cinta ini tak mungkin ku cegah ayat-ayat cinta bercerita cintaku padamu bila bahagia mulai menyentuh seakan ku bisa hidup lebih lama namun harus ku tinggalkan cinta ketika ku bersujud
bila keyakinanku datang kasih bukan sekedar cinta pengorbanan cinta yang agung ku pertaruhkan
ketika ku bersujud | Ayat Ayat Cinta | | VA - OST Ayat Ayat Cinta | | Rossa | |
نشيد إسلامي يعلم الحروف الهجائية بكلمات بسيطة وسهله,مثل ألف أرنب ,,باءٌ بطة,, ماعليك سوى جعل طفلك يشاهده وبعدها سيكون بلبل في االلغةالعربية ولا يحتاج للروضة,,:)
بارك الله فيمن قاموا بهذا العمل المبارك,,
Download this and other original video files with Multiply Premium.Bersamamu, kulewati lebih dari seribu malam Bersamamu yang kumau namun kenyataan yang tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan izinkan aku untuk mencintanya Namun bila waktuku telah habis dengannya biar cinta hidup sekali ini saja
Bersamamu kulewati ... lebih dari seribu malam Bersamamu ... kulewati ... namun kenyataan yang tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan izinkan aku untuk mencintanya Namun bila waktuku telah habis dengannya biar cinta hidup sekali ini saja
tak sanggup bila harus jujur hidup tanpa hembusan nafasnya.
Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali sekali lagi untuk mencintanya... Namun bila waktuku telah habis dengannya Biarkan cinta ini... Biarkan cinta ini... Hidup untuk sekali ini saja | Istri Untuk Suamiku Indra Song Sekali Ini Saja by Glenn Fredly [www.GEMPAQ.com] | | | | | |
| |